Pohon Hayat Seumur Hidup (Kalpataru)

Tentang sejarah kalpataru

Minggu, 24 April 2016

Pohon Hikayat Seumur Hidup (Kalpataru)

     Kalpataru itu lambang supremasi pengabdi lingkungan,tapi barangkali hanya sedikit dari kita yang memahami betapa dalam konsep kalpataru dalam sejarah kebudayaan kuno Indonesia.
     Kalpataru bukan sekadar simbol perintis lingkungan hidup.Simbol itu bisa dijabarkan secara analitis:berperilaku dan berwawasan lingkungan.Begitulah spontanitas kita ketika berbicara tentang kalpataru masa kini.
     Tentu saja uraian analitis tadi hanya penyederhanaan kasar terhadap makna kalpataru modern.Simbol lingkungan hidup mirip bentuk pohon beringin itu sesungguhnya menyimpan harta,potensi,tapi sekaligus juga problem dan tugas.Singkatnya,kalpataru memendam sejarah kebudayaan manusia yang ingin dihargai.
     Perhatikan saja namanya,KALPATARU.
Ini istilah sansekerta,berasal dari kata kalpa=masa dunia dan taru=pohon.Jadi kalpataru adalah "pohon masa dunia".Artinya,pohon yang terus hidup seumur dunia.Maka,jadilah ia simbol keabadian.
     Ya,kalpataru memang nama purba,sudah lama ada dan dipercaya sebagai pohon kehidupan (tree of life),juga pohon keinginan (wishing tree).Katanya,pohon hayat ini penuh janji penabur rezeki manakala dipuji.Penuh tuah dan berkah,manakala disembah.Malah bukan hanya itu,dalam sistem religi leluhur kala lampau,dia diyakini sebagai simbol kemakmuran,sekaligus keseimbangan antara jagad cilik (mikrokosmos)dan jagad gede(makrokosmos).
  Pohon Mistis
     Si pohon hayat kalpataru begitu penting dalam kehidupan religi nenek moyang Indonesia.Konsep kepercayaan yang berlebihan ini,diduga muncul dari perkembangan konsep religi pendahulunya,yaitu pengkulturan pohon-pohon tertentu yang dianggap punya kekuatan gaib.
     Seperti apa bentuk pohon kalpataru itu?Ribuan bentuk pohon di bumi,barangkali tak satupun bisa disamakan atau dimirip-miripkan dengannya.Pasalnya,pohon hayat ini tak pernah ada di alam nyata,melainkan hanya dialam mistis.Tak salah,kalau Reg Wedha senantiasa melantunkan nyanyian pohon kayangan ini sebagai tempat tinggal para dewa,sekaligus simbol Buddha Gautama.
     Akibatnya,kalpataru sering ditafsirkan oleh sarjana,berkembang karena kebudayaan Buddhis.Namun,anggapan semacam ini barangkali perlu ditinjau kembali.Sebab ada sejumlah data dan teori yang mengisyaratkan:kebudayaan Hindupun mungkin berperan aktif dalam soal memasyhur-masyhurkan kalpataru.Data itu bersumber pada lontae kuno yang menekankan kesakralan pohon hayat ini,sebagai satu dari lima pohon surgawi tempat bersemayam Dewa Wisnu.Siapa pula Wisnu itu,kalau bukan salah satu dari Trimurti yang acapkali turun ke bumi demi kedamaian manusia.(ref.Intisari)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar